Connect with us

HUKUM

Rumah Anak Buah Rommy Hurmujiy Digeledah KPK

Published

on

Bupati Jepara, Ahmad Marzuqi.

Zone.co.id, Jepara – Kedatangan tim Komisi Pemberantasan Korupsi di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Selasa (4/12/2018), tidak hanya menggeledah kantor Bupati Jepara Ahmad Marzuqi.

Tim lembaga antirasuah tersebut dilaporkan juga mendatangi rumah salah seorang anggota DPRD setempat dari Fraksi PPP.

Setelah ke Pendapa Kabupaten Jepara Selasa (4/12/2018) pada pukul 12.00 WIB ke kantor Bupati Jepara Ahmad Marzuqi, tim KPK kemudian mendatangi rumah politikus PPP Agus Sutisna untuk melakukan penggeledahan.

Agus Sutisna yang merupakan Anggota Komisi C DPRD Kabupaten Jepara itu bermukim di Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara.

Wakapolres Jepara Kompol Pranandya Subiyakto di Jepara, Rabu (5/12/2018) membenarkan bahwa anggotanya yang ditugaskan mengawal tim KPK pada Selasa (4/12/2018) tidak hanya mendatangi kantor Bupati Jepara. Setelah itu juga mendatangi rumah Anggota DPRD Jepara Agus Sutisna.

“Hanya saja, kepastian waktunya saat mendatangi rumah anggota dewan tersebut tidak mengetahuinya,” ujarnya.

Personel Polres Jepara yang ditugaskan mengawal tim KPK, kata dia, mulai menjalankan tugasnya sejak pukul 08.00 WIB hingga sore hari. 

Kasat Reskrim Polres Jepara AKP Mukti Wibowo menambahkan tim KPK yang datang ke Jepara memang terbagi menjadi beberapa tim.

Dalam penggeledahan di kediaman anggota DPRD Jepara Agus Sutisna, katanya, tim dari KPK membawa sejumlah berkas yang dimasukkan ke dalam koper.

“Kami hanya bertugas mengawal, sedangkan apa yang dicari dan terkait permasalahan apa tidak mengetahuinya,” ujarnya.

 Sementara itu, Ketua DPC PPP Kabupaten Jepara Taj Yasin saat dihubungi untuk menanyakan kebenaran kediaman Agus Sutisna anggota DPRD Jepara dari Fraksi PPP di Desa Kecapi, Tahunan, Jepara didatangi petugas KPK setelah sebelumnya juga mendatangi Bupati Jepara Ahmad Marzuqi, menjawab tidak mengetahui.
 
“Saya kurang tahu masalah itu,” ujarnya.

Ia membenarkan bahwa Agus Sutisna memang masuk ke dalam jajaran PPP.

Ketua Komisi C DPRD Jepara Sunarto mengungkapkan pada Rabu (5/12/2018) rombongan Komisi C memang berangkat ke Jakarta untuk bertemu dengan Menteri Agama.

Terkait Agus Sutisna, kata dia, pada Selasa (4/12/2018) memang menyatakan turut serta ke Jakarta, namun kepastiannya tentu menunggu di Jakarta karena ada yang berangkat dengan kendaraan berbeda.

Rencananya, kata dia, agenda beraudiensi dengan Kementerian Agama dijadwalkan Kamis (6/12/2018) terkait soal jumlah petugas yang mendampingi calon haji yang berangkat ke Tanah Suci. 

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, Bupati Jepara Ahmad Marzuqi membenarkan adanya tim KPK yang datang ke kantornya sebanyak lima orang pada Selasa (4/12/2018).

Tim KPK meminta keterangan terkait hakim Lasito dari Pengadilan Negeri Semarang yang menyidangkan kasus praperadilannya.

Hakim Lasito merupakan hakim yang menyidangkan kasus praperadilan pada November 2017 dan membatalkan status tersangka korupsi untuk Bupati Jepara Ahmad Marzuqi.

Selain itu, tim dari KPK juga meminta salinan sumpah janji sebagai bupati, salinan Surat Keputusan tahun 2017 pelantikan maupun pemberhentian sebagai bupati Jepara, salinan SK pelantikan sebagai bupati periode 2017-2022 serta ada laporan OPD tentang kegiatan kepada dirinya.

Kedatangan tim KPK tersebut diduga terkait kasus sidang praperadilan yang akhirnya dimenangkan Ahmad Marzuki, kemudian muncul dugaan ada pemberian hadiah ke pengadilan. 

Perkara tersebut berawal dari kasus dugaan penyelewengan dana bantuan politik (banpol) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tahun 2011 hingga 2013 sebesar Rp78 juta. 

Ahmad Marzuqi sebagai ketua DPC PPP Jepara dijadikan tersangka oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah, namun pada praperadilan, Ahmad Marzuqi menang. (akh)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

HUKUM

OTT “Momok” bagi Pejabat

Published

on

Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan.

Zone.co.id, Kendari – Penegakan hukum yang dilakukan pemerintah sekarang ini tidak main-main dan tidak pilih-pilih baik itu kepada masyarakat biasa maupun pejabat atau mantan pejabat yang terbukti melakukan pelanggaran.

Bahkan, saat pejabat masih bertengger di posisinya juga tidak lepas dari jeratan penegakan hukum yang dilakukan pemerintah. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ataupun Kejaksaan terus memantau dan menindak para pejabat atau siapa saja yang melakukan pelanggaran.

Dengan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap para pejabat yang masih berkuasa atau mantan pejabat yang terindikasi melakukan pelanggaran hukum berupa korupsi. Di Sulawesi Tenggara sendiri sampai menjelang akhir tahun 2018 telah terjadi tiga kali OTT terhadap pejabat atau mantan pejabat karena mereka terindikasi melakukan tindak pidana korupsi.

Pada pengujung Februari 2018, masyarakat Kota Kendari khususnya dan Sulawesi Tenggara dikejutkan dengan pemeriksaan pejabat dan mantan pejabat serta pengusaha oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Adriatma Dwi Putra yang baru menjabat sebagai wali kota Kendari sekitar empat bulan dan calon gubernur (cagub) nomor urut dua, Asrun, serta mantan ketua kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Kendari Fatmawati Faqih, dan beberapa orang lainnya diperiksa KPK di kantor Polda Sultra pada Rabu (28/2/2018).

Asrun yang sebelumnya menjabat sebagai wali kota Kendari dua periode yang digantikan Adriatma Dwi Putra mempunyai hubungan sedarah yaitu antara ayah dengan anak.

Diduga, kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan saat itu, Wali Kota Kendari bersama-sama pihak lain menerima hadiah dari swasta atau pengusaha terkait pelaksanaan pengadaan barang dan jasa di Pemerintah Kota Kendari tahun 2017-2018 senilai total Rp2,8 miliar.

“Diduga PT SBN merupakan rekanan kontraktor jalan dan bangunan di Kendari sejak 2012. Januari 2018 ini, PT SBN memenangkan lelang proyek Jalan Bungkutoko – Kendari New Port dengan nilai proyek Rp60 miliar,” ucap Basaria.

Sebagai pihak yang diduga penerima Adriatma, Asrun, dan Fatmawati disangkakan melanggar Pasal 11 atau pasal 12 huruf a atau huruf b UU No. 31 Tahun 1999 yang diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sedangkan diduga pihak pemberi Hasmun disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau pasal 13 UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Untuk mengisi kekosongan jabatan di Kota Kendari, Pemprov Sultra bergerak cepat dan dua hari atau Jumat (2/3/2018) dengan menunjuk Wakil Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir, menerima surat penugasan sebagai Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Kendari.

Penugasan Wakil Wali Kota Kendari selaku Plt Wali Kota Kendari itu tertuang dalam Surat Keputusan Gubernur Sultra Nomor 131.74/1201 tanggal 2 Maret 2018 dengan menunjuk SK Mendagri nomor.131.74/790/OTDA tanggal 1 Maret 2018 perihal penugasan Wakil Wali Kota Kendari selaku Pelaksana Tugas Wali Kota.

Berdasarkan ketentuan UU No. 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan UU No. 9/2015 tentang perubahan kedua atas UU No. 23/2014 yang memuat beberapa pengaturan yakni pada ketentuan pasal 65 ayat (3) huruf c menyatakan bahwa Kepala Daerah yang sedang menjalani tahanan dilarang melakukan tugas dan kewenangannya.

Dibagian lain pasal 66 ayat (1) huruf c menyatakan bahwa, wakil kepala daerah melaksanakan tugas dan wewenang sebagai kepala daerah apabila kepala daerah menjalani masa tahanan atau berhalangan sementara.

“Menyangkut bila ada kebijakan strategis, saya harap Plt Wali Kota Kendari tetap melakukan koordinasi dengan Wali Kota Kendari. Sebab walaupun Wali Kota Kendari Adriatma Dwi Putra (ADP) sudah menjadi tahanan KPK, masih bisa melakukan koordinasi dengan yang bersangkuta,” kata Pejabat Gubernur Sultra, Teguh Setyobudi saat itu.

Belum hilang rasa terkejut terkait OTT yang dilakukan Wali Kota Kendari Adriatma Dwi Putra dan ayahnya Asrun, masyarakat Sulawesi Tenggara kembali dikejutkan dengan OTT Bupati Buton, Agus Feisal Hidayat, oleh KPK, pada Mei 2018.

Bersama Bupati Buton Selatan juga ikut diamankan sembilan orang terkait dengan OTT yang dilakukan terhadap Bupati Buton Selatan.

“Kesembilan orang itu tentunya akan diperiksa terkait peran masing-masing terhadap kasus yang diduga OTT terhadap Bupati Buton Selatan,” kata Kabid Humas Polda Sultra, AKBP Harry Goldenhardt, saat itu.

Pada 23 Mei 2018 sekitar pukul 17.00 wita bertempat di rumah jabatan Bupati Buton Selatan Jl. Gajah Mada Kelurahan Laompo Kecamatan Batauga Kabupaten Buton Selatan berlangsung operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan oleh Tim Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Bupati Buton Selatan Agus Feisal Hidayat.

OTT berawal dari penangkapan salah seorang pengusaha dan kemudian menyusul Bupati Buton Selatan. Dalam OTT ini turut diamankan 10 orang yang terdiri atas Bupati Buton Selatan, Agus Feisal Hidayat kemudian, seorang pengusaha, beberapa pejabat lingkup Pemkab Buton Selatan.

Agus Feisal Hidayat (Bupati Kabupaten Busel) bersama 9 orang lainnya yang diamankan tiba di ruangan Reskrim Polres Baubau dibawa oleh Tim KPK guna menjalani pemeriksaan awal pukul 19.45 Wita.

Dalam OTT tersebut, KPK mengamankan barang bukti berupa empat kardus dan Rp400 juta uang. “Tim menduga telah terjadi transaksi dan mengamankan uang sekitar Rp400 juta, diduga terkait proyek di daerah setempat,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah.

Kejaksaan

Belum hilang dalam ingatan soal OTT yang dilakukan terhadap pejabat dan mantan pejabat di Sultra, menjelang akhir tahun tiba-tiba muncul kembali OTT di provinsi ini. Kali ini yang terkena OTT adalah Sekretaris Dinas Pendidikan Nasional (Sekdisnas) Sulawesi Tenggara oleh Kejaksaan Negeri Kota Kendari karena dugaan kasus korupsi.

Peristiwa OTT terhadap Sekdisnas Sultra yang berinisial LD terjadi pada Rabu (28/11/2018) sekitar pukul 17.00 Wita di salah satu hotel yang ada di ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara dengan barang bukti uang Rp425 juta.

Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sultra, Tomo Sitepu menjelaskan, LD diduga meminta fee 10 persen dari anggaran dana alokasi khusus (DAK) Dinas Pendidikan Sultra dengan rincian Rp102 miliar untuk Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Rp80 miliar untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

“Sumber dana itu adalah dana untuk pelatihan siswa, pembangunan laboratorium, dan pembangunan rumah dinas,” tutur Sutomo.

Begitu melakukan OTT, Kejaksaan Negeri Kota Kendari langsung melakukan gerak cepat dengan menyegel ruang kerja Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan LD (57) pada keesokan harinya atau Kamis (29/11/2018).

Kedatangan satuan khusus pemberantasan korupsi yang mengenakan pakaian seragam Korpri mengejutkan aparatur sipil negara (ASN) di kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang beralamat di Jl M Hatta, Kelurahan Sodooha, Kota Kendari.

“Dana itu untuk pelatihan siswa, pembangunan laboratorium, dan pembangunan rumah dinas,” ujar Tomo.

Satuan khusus kejaksaan telah melakukan pengintaian terhadap aktivitas LD sejak beberapa hari lalu, sehubungan pelaksanaan kegiatan pelatihan para kepala sekolah SMA, SMK, dan sekolah menengah luar biasa se-Sultra di Kendari.

Setelah melalui pemeriksaan, Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara menetapkan Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat berinisial LD menjadi tersangka kasus operasi tangkap tangan (OTT) di salah satu hotel di Kendari.

Tomo Sitepu saat memberikan keterangan pers mengatakan penetapan LD sebagai tersangka setelah timnya melakukan pemeriksaan terhadap LD dan beberapa barang bukti.

Selain itu juga memeriksa beberapa saksi baik di lingkungan Dinas Pendidikan Sultra maupun terhadap beberapa kepala sekolah dan pihak SMA dan SMK. “Hingga saat ini penyidik kejaksaan sudah melakukan pemeriksaan terhadap 17 saksi,” katanya.

Sepanjang tahun 2018 Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Tenggara (Sultra) telah menangani sedikitnya 30 kasus tindak pidana korupsi.

Kepala Kejaksaan Tinggi Sultra, Mudim Aristo, mengungkapkan untuk kasus tindak pidana korupsi yang ditangani Kejaksaan Tinggi Sultra sebanyak 30 kasus dan jumlah tersebut masih dalam tahap penyelidikan, sedangkan kasus yang dalam tahap proses penyidikan sebanyak 35 kasus.

“Untuk tindak pidana khusus ada 30 kasus yang saat ini kita tangani dan dalam tahap penyelidikan, dan penyidikan sebanyak 35 kasus,” ungkap Mudim Aristo.

Selain itu ungkap Mudim Aristo terdapat 42 kasus dalam proses pra-penuntutan dari kejaksaan dan 24 perkara dari kepolisian.

Menurut Mudim Aristo kasus yang sudah tingkatan penuntutan dari kejaksaan sebanyak 38 perkara dan dari kepolisian 32 perkara, sementara yang sudah ditetapkan atau diputus sebanyak 63 perkara.

“Dalam perkara tindak pidana khusus, uang negara yang berhasil diselamatkan Kejaksaan Tinggi Sultra sebanyak Rp12,717 miliar lebih,” ungkapnya. (her)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

HUKUM

KPK Tahan Kakak Ipar Bupati Cianjur

Published

on

Tubagus Cepy Sethiady (TCS), yang juga kakak ipar dari Bupati Cianjur, Irvan Rivano Muchtar saat jalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta.

Zone.co.id, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan tersangka korupsi pemotongan Dana Alokasi Khusus (DAK) Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur, Tubagus Cepy Sethiady (TCS), yang juga kakak ipar dari Bupati Cianjur, Irvan Rivano Muchtar.

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis malam (13/12/2018), menyatakan, KPK menahan Cepy selama 20 hari ke depan terhitung mulai Kamis (13/12/2018).

BACA JUGA : Kronologi Penangkapan Terhadap Bupati Cianjur

Usai menjalani pemeriksaan sejak Kamis (13/12) siang, Cepy yang telah mengenakan rompi tahanan KPK itu memilih bungkam saat dikonfirmasi awak media seputar kasusnya tersebut.

Untuk diketahui, Cepy menyerahkan diri ke KPK pada Kamis (13/12/2018) siang setelah diumumkan sebagai tersangka bersama tiga orang lainnya pada Rabu (12/12/2018) malam.

Tiga tersangka lain, yakni Irvan Rivano (IRM), Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur, Cecep Sobandi (CS), dan Kepala Bidang SMP di Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur, Rosidin (ROS). 

Ketiganya juga telah ditahan terlebih dahulu untuk 20 hari ke depan terhitung mulai Kamis (13/12/2018).

Dalam kasus ini, Cepy menjadi perantara transaksi dalam pemberian terkait korupsi pemotongan DAK di Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur.

“Kenapa dia bisa menjadi perantara? Karena para kepala sekolah percaya bahwa dia adalah orang kepercayaan dari bupati tidak hanya pada saat ini, ini sudah terjadi pada periode sebelumnya pada periode orang tuanya,” ucap Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan saat konferensi pers di gedung KPK, Jakarta, Rabu malam (12/12/2018).

Untuk diketahui ayah dari Irvan Rivano, yaitu Tjetjep Muchtar Soleh juga merupakan bupati Cianjur periode 2006-2016. 

“Peranan dari TCS sebagai kakak ipar adalah kita tahu ini menurut informasi sementara orang tua dari bupati yang sekarang sebelumnya juga adalah bupati, jadi iparnya ini dulu memang juga sudah sering membantu bupati sebelumnya, yaitu ayah dari bupati yang sekarang,” ungkap Basaria.

Diduga Bupati Cianjur bersama sejumlah pihak telah meminta, menerima atau memotong pembayaran terkait DAK Pendidikan Kabupaten Cianjur Tahun 2018 sebesar sekitar 14,5 persen dari total Rp46,8 miliar.

Taufik Setiawan alias Opik dan Rudiansyah yang menjabat sebagai pengurus Majelis Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Cianjur diduga berperan menagih “fee” dari DAK Pendidikan pada sekitar 140 Kepala sekolah yang telah menerima DAK tersebut.

Dari sekitar 200 Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang mengajukan, alokasi DAK yang disetujui adalah untuk sekitar 140 SMP di Cianjur. 

“Diduga, alokasi “fee” terhadap IRM, Bupati Cianjur adalah 7 persen dari alokasi DAK tersebut. Sandi yang digunakan adalah “cempaka” yang diduga merupakan kode yang menunjuk Bupati IRM,” ungkap Basaria.

Dalam tangkap tangan kasus itu, KPK turut mengamankan uang Rp1.556.700.000 dalam mata uang rupiah dalam pecahan Rp100.000, Rp50.000, dan Rp20.000.

“Diduga sebelumnya telah terjadi pemberian sesuai dengan tahap pencairan DAK Pendidikan di Kabupaten Cianjur tersebut,” kata dia. (bfd)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

HUKUM

Kejaksaan Agung Bantah Tolak SPDP Kasus Gunawan Jusuf

Published

on

Kepala Pusat Penerangan Kejaksaan Agung, Mukri.

Zone.co.id, Jakarta – Kejaksaan Agung membantah telah menolak Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) yang dikirimkan Bareskrim Kepolisian Indonesia soal kasus yang diduga melibatkan pengusaha Gunawan Jusuf. 

Kepala Pusat Penerangan Kejaksaan Agung, Mukri, di Jakarta, Kamis (13/12/2018) mengatakan, justru mereka terbuka bila Kepolisian Indonesia hendak mengirim kembali SPDP kasus itu karena SPDP yang sebelumnya telah dikembalikan kepada polisi.

Mukri menjelaskan, Kejaksaan Agung mengembalikan SPDP kasus Gunawan lantaran SPDP yang dikirim ke Kejaksaan Agung tidak diikuti dengan pengiriman berkas perkara.

“Berkas perkaranya tidak dikirimkan oleh penyidik, sehingga sesuai prosedur standar operasi kami, SPDP tersebut kami kembalikan ke penyidik,” kata Mukri.

Menurut dia, sesuai putusan Mahkamah Konstitusi, ketika penyidik Kepolisian Indonesia bekerja, maka dalam waktu tujuh hari penyidik harus mengirimkan SPDP ke Kejaksaan. Setelah SPDP dikirimkan, maka dalam satu bulan, berkas perkara harus dikirimkan.

“Kami berikan Formulir P17, itu menanyakan perkembangan penyidikan. Nanti satu bulan lagi kalau tidak ada (pengiriman) berkas perkara itu kami kembalikan SPDP-nya,” ujar Mukri.

Posedur ini diatur dalam Perja 036/ A/ 09/ 2011 tentang Standar Operasional Prosedur Penanganan Perkara Tindak Pidana Umum. 

Namun demikian Mukri mengatakan, aturan ini hanya bersifat administrasi saja. Karena itu, meski SPDP sudah dikembalikan, polisi tetap bisa melakukan penyidikan kembali. “Bila (SPDP) dikirimkan lagi kami tetap terima,” kata Mukri.

Kepolisian Indonesia saat ini tengah menangani kasus dugaan penggelapan dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang dilaporkan pengusaha asal Singapura, Toh Keng Siong, terhadap pengusaha gula, Gunawan Jusuf.

Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Kepolisian Indonesia, Komisaris Besar Polisi Daniel Tahi Monang Silitonga, mengatakan, mereka sudah mengirim SPDP kasus ini ke Kejaksaan Agung. Namun kemudian ditolak Kejaksaan Agung tanpa penjelasan.

Sementara Kepala Biro Penerangan Masyarakat Kepolisian Indonesia, Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo, mengatakan, penyidik masih mengumpulkan bukti-bukti dengan melibatkan pihak lain yakni dengan berkoordinasi dengan Kementerian Hukum dan HAM untuk meminta data ke Singapura dan Hongkong terkait pencarian bukti-bukti kasus itu.

Anggota Komisi Kepolisian Nasional, Andrea Poeloengan, mendukung upaya polisi mencari barang bukti hingga ke luar negeri. 

“Kalau memang alat bukti belum cukup saya pikir sudah selayaknya Polri mencarinya hingga ke manapun. Kalau Polri masih menyidik berarti mereka yakin ada dugaan perbuatan pidana, tinggal mencari alat buktinya agak lengkap,” ujar Pulungan.

Ia menyatakan pencarian alat bukti hingga ke luar negeri menandakan Polri serius dalam mengungkap suatu perkara.

“Polri harus tuntas dalam bekerja, artinya upaya pemenuhan alat bukti harus dioptimalkan karena diperlukan dalam proses sidiknya. Kalau sudah bekerja optimal ternyata tidak cukup (bukti) juga, maka Polri perlu menetapkan sikapnya terkait kelanjutan penyelidikan atau penyidikan,” katanya. (apd)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending