Connect with us

HEALTH

Benarkah Kerajinan Kertas Bisa Meredam Stress?

Published

on

Kerajinan kertas dapat menghilangkan stres bagi orang yang memang sudah hobi melakukan kerajinan kertas.

Zone.co.id, Jakarta – Mengisi waktu luang dengan merangkai kertas menjadi sebuah kerajinan diyakini dapat meredam stres.

Kalangan yang hobi berkerajinan kertas menilai bahwa kegiatan itu layaknya sebuah terapi, karena dapat melatih kesabaran.

“Senang saja bikin begini dan melatih kesabaran. Menghilangkan stres juga setelah bekerja,” kata Dona Gloria (39), seorang karyawan swasta ketika ditemui di Bentara Budaya, Jakarta saat Workshop Paper Craft bertajuk “Cerita Kertas”, Kamis (14/3/2019).

Berbeda dengan Dona, salah seorang ibu rumah tangga, Dian Singgih (52) mengatakan kerajinan kertas adalah kegiatan yang menyenangkan dan melatih kesabaran.

“Buat beginian itu salah satu meditasi. Pas ngerjain ini jadi bikin fokus,” kata Dian.

Sementara itu, menurut penggagas seni kertas Kertase, Agus Winarto mengatakan kerajinan kertas dapat menghilangkan stres bagi orang yang memang sudah hobi melakukan kerajinan kertas.

“Penghilang stres iya kalau bagi orang yang hobi. Bagi orang yang tidak hobi malah bikin stres ya,” katanya.

Lebih lanjut, Agus juga menjelaskan bahwa membuat kerajinan kertas lebih dari sekadar menghilangkan stres, tetapi bisa merekatkan hubungan keluarga.

“Ada orang sudah menikah tapi tidak tahu kesukaan istri apa, suka suami apa. Dari situ saya menuntun mereka untuk tahu pasangan kamu sukanya apa,” ucapnya.

Sebanyak puluhan peserta mengikuti pelatihan membuat kerajinan kertas di Bentara Budaya, Jakarta. Para peserta belajar membuat boneka kertas yang langsung dibimbing oleh Agus Winarto.

“Kerajinan kertas yang saya adakan selalu membuat orang senang karena saya tidak melihat hasil bagus atau gimana. Yang penting menyenangkan dalam prosesnya,” tutur Agus. (ant)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

HEALTH

Durasi Keramas Ideal agar Kepala Tidak Gatal

Published

on

Frekuensi keramas disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing rambut orang. Begitupula, pemijatan lembut untuk menguatkan akar rambut.

Zone.co.id, Tangerang – Kegiatan keramas semestinya berlangsung tiga hingga lima menit agar tidak terdapat sisa partikel yang menyebabkan kulit kepala gatal, demikian disampaikan pakar perawatan kulit PT Paragon Technology & Innovation Meti Fatmawati di Tangerang, Senin (15/4/2019).

“Jika keramas terlalu lama, banyak partikel yang dapat mengendap di rambut. Jika partikel itu terlalu lama bertahan di rambut, justru rambut akan lepek.” kata Meti.

Meti juga menyarankan frekuensi keramas disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing rambut orang. Begitupula, pemijatan lembut untuk menguatkan akar rambut.

Pembilasan rambut, lanjut Meti, perlu dipastikan secara menyeluruh agar busa sampo tidak tertinggal di rambut. Busa sampo menyebabkan rambut lepek dan kulit kepala terasa gatal.

“Selepas keramas, pembilasan harus sempurna. Jadi, penyebab rambut lepek atau kadang ada putih-putih itu berasal dari residu atau busa sampo yang belum dibilas. Sisa busa itu menumpuk dan menyebabkan gatal,” kata Meti.

“Kadang pakai sampo beberapa hari masih ada putih-putih. Itu belum tentu ketombe. Pembentukan ketombe enggak terjadi secara cepat. Jadi, pastikan busa ketika keramas tidak ada lagi di rambut,” ujarnya. (lws)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

HEALTH

Cahaya Biru Smartphone Bisa Sebabkan Kebutaan?

Published

on

Perangkat elektronik termasuk smartphone, tablet, TV LCD dan laptop memancarkan cahaya biru dalam jumlah yang tidak berbahaya bagi retina atau bagian mata lainnya.

Zone.co.id, Jakarta – Beberapa orang menganggap cahaya biru smartphone atau perangkat elektronik bisa menyebabkan mata buta. Benarkah anggapan itu menurut ahli kesehatan?

David Ramsey, seorang spesialis penyakit retina dan direktur Ophthalmic Research at the Lahey Hospital and Medical Center, seperti dilansir dari Medical Daily, Minggu (14/4/2019), mengatakan perangkat elektronik termasuk smartphone, tablet, TV LCD dan laptop memancarkan cahaya biru dalam jumlah yang tidak berbahaya bagi retina atau bagian mata lainnya.

Namun dia tak menampik cahaya biru bisa menyebabkan kerusakan tetapi ketika berbagai sel dalam tubuh terkena secara berlebihan.

“Cahaya biru ini tidak mungkin menimbulkan bahaya fisik pada retina, tidak berbahaya bagi retina karena jumlah cahaya yang dipancarkan. Sumber cahaya biru industri sengaja disaring atau dilindungi untuk melindungi penggunanya,” kata dia.

Namun Ramsey memperingatkan meski tidak berbahaya, perangkat seluler dan elektronik masih dapat memengaruhi kesehatan Anda.

Paparan cahaya buatan saja dapat mengubah jam sirkadian atau jam tubuh internal, yang mengganggu tidur dan siklus lainnya dalam tubuh.

Dia mengungkapkan tidak ada bukti yang mendukung penggunaan lensa penghalang cahaya biru untuk melindungi kesehatan retina. Beberapa produsen mendapat denda karena klaim menyesatkan tentang jenis lensa tersebut.

Perangkat yang dapat memancarkan cahaya biru intensitas tinggi misalnya senter militer dan lampu genggam lainnya. Melihat langsung pada produk konsumen berdaya tinggi ini dapat berpotensi berbahaya bagi mata. (lws)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

HEALTH

Nokturia, Penyebab Orang Sering Berkemih Malam Hari

Published

on

Nokturia, merupakan suatu kondisi orang terbangun pada malam hari karena harus buang air kecil.

Zone.co.id, Jakarta – Apakah Anda seringkali terbangun dua hingga enam kali dalam semalam hanya untuk buang air kecil atau berkemih? Jika iya, boleh jadi Anda mengalami kondisi nokturia yang mengganggu jam istirahat tubuh.

Lantas, apa itu nokturia? Nokturia merupakan suatu kondisi orang terbangun pada malam hari karena harus buang air kecil. Penyebab umum nokturia antara lain asupan cairan yang tinggi, obstruksi kandung kemih, dan gangguan tidur lain.

Seperti dilansir Medical News Today, Senin (8/4/2019), nokturia dapat menjadi tanda gangguan kondisi kesehatan lain, termasuk prolaps kandung kemih, tumor kandung kemih atau prostat, dan gangguan lain yang mempengaruhi kontrol sfingter (otot yang mencegah aliran balik makanan dan asam dari perut ke dalam esofagus).

Wanita hamil, penderita gagal jantung atau hati, dan diabetes juga mungkin mengalami nokturia.

Seiring bertambahnya usia, tubuh kita menghasilkan lebih sedikit hormon antidiuretik yang memungkinkan kita untuk menahan cairan. Kehilangan hormon antidiuretik menyebabkan produksi urin lebih banyak pada malam hari.

Orang tua cenderung kehilangan kemampuan menahan kemih dan memiliki masalah medis yang berdampak pada kandung kemih.

Sebuah jajak pendapat National Sleep Foundation pada 2003 menunjukkan sekitar dua pertiga responden berusia antara 55 dan 84 tahun mengalami nokturia setidaknya beberapa malam per minggu. (lws)


Media Zone menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : redaksizone@gmail.com, dan redaksi@zone.co.id, atau via wa/SMS : 0878-15557788.

Continue Reading

Trending